<form id="gaia_loginform" action="https://www.google.com/accounts/ServiceLoginAuth?service=blogger" method="post" onsubmit= "return(gaia_onLoginSubmit());" >
<div id="gaia_loginbox">
<table class="form-noindent" cellspacing="0" cellpadding="5" width="100%" border="0">
<tr> <td valign="top" style="text-align:center" nowrap="nowrap" bgcolor="#e8eefa">
<input type="hidden" name="ltmpl" value="draft">
<div class="loginBox">
<table id="gaia_table" align="center" border="0" cellpadding="1" cellspacing="0">
<tr><td colspan="2" align="center">
<table> <tr> <td valign="top">
<img src="http://kodehexa.googlepages.com/google_transparent.gif" alt="Google">
</img>
</td>
<td valign="middle">
<font size="+0">
<b>Akun</b>
</font>
</td>
</tr>
</table>
<font size="-1">
</font></td>
</tr>
<script type="text/javascript">
<!-- function onPreCreateAccount() { return true; } function onPreLogin() { if (window["onlogin"] != null) { return onlogin(); } else { return true; } } -->
</script>
<tr>
<td colspan="2" align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap">
<div align="right">
<span class="gaia le lbl">
Email:
</span>
</div>
</td>
<td> <form id="gaia_loginform" action="https://www.google.com/accounts/ServiceLoginAuth?service=blogger" method="post" onsubmit= "return(gaia_onLoginSubmit());" > <div id="gaia_loginbox"> <table class="form-noindent" cellspacing="0" cellpadding="5" width="100%" border="0"> <tr> <td valign="top" style="text-align:center" nowrap="nowrap" bgcolor="#e8eefa"> <input type="hidden" name="ltmpl" value="draft"> <div class="loginBox"> <table id="gaia_table" align="center" border="0" cellpadding="1" cellspacing="0"> <tr><td colspan="2" align="center"> <table> <tr> <td valign="top"> <img src="http://kodehexa.googlepages.com/google_transparent.gif" alt="Google"> </img> </td> <td valign="middle"> <font size="+0"> <b>Akun</b> </font> </td> </tr> </table> <font size="-1"> </font></td> </tr> <script type="text/javascript"> <!-- function onPreCreateAccount() { return true; } function onPreLogin() { if (window["onlogin"] != null) { return onlogin(); } else { return true; } } --> </script> <tr> <td colspan="2" align="center"> </td> </tr> <tr> <td nowrap="nowrap"> <div align="right"> <span class="gaia le lbl"> Email: </span> </div> </td> <td>
PENDERITAAN RAKYAT PALESTINA
Rabu, 10 Agustus 2016
Sabtu, 24 November 2012
serangan israel biadab
SERANGAN ISRAEL TERAKHIR
Sewaktu penulisan buku ini (dasar pembuatan
situs ini) dimulai, Palestina tengah mengalami bulan-bulan pertama
Intifadah al-Aqsa. Dari hari paling awal Intifadah baru ini,
pemerintahan Israel menanggapi dengan keras demontrasi jalanan warga
Palestina. Namun, sementara itu, bentrokan di wilayah ini menjadi jauh
lebih keras. Untuk membalas bom bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa
kelompok Palestina, Israel telah melangkah lebih jauh dalam menekan
Daerah Pendudukan. Operasi Israel yang dilakukan di darat, laut, dan
udara ditujukan terutama terhadap orang-orang sipil Palestina. Hari-hari
terkeras selama Intifadah al-Aqsa mungkin telah meledak begitu tahun
2002 dimulai.
Dalam operasi terakhir ini, yang digambarkan
oleh pihak berwenang sebagai yang terbesar di Daerah Pendudukan dalam 20
tahun terakhir, tentara Israel mengirimkan sekitar 20.000 tentara.
Dengan pengerahan ini, yang dianggap sebagai sebuah pertanda awal akan
adanya pembantaian besar-besaran, tentara Israel mulai mencaplok
wilayah-wilayah yang ditempati rakyat Palestina satu demi satu. Operasi
ini sebenarnya telah diramalkan berbulan-bulan sebelumnya. Seperti telah
kita bahas di bagian sebelumnya “Ariel Sharon Bersiap untuk Perang,”
sumber-sumber media asing telah meramalkan pendudukan itu. Berita yang
bocor dari pemerintahan Israel ini juga menunjukkan bahwa Israel tengah
mempersiapkan perang besar.
Begitu pendudukan dimulai, pemandangan yang
mengingatkan pada penyerangan Libanon 1982 mulai tampak. Hal yang sama
terjadi di setiap kamp pengungsi yang dicaplok dan daerah berdekatan.
Pertama-tama, suara tank dari kejauhan dan letupan senjata terdengar,
lalu generator yang menyuplai arus listrik dihancurkan, menjerumuskan
daerah ini ke dalam kegelapan dan mengasingkannya dari dunia luar.
Sebelum bergerak jauh, pesawat-pesawat F-16 datang untuk membantu
tank-tank. Semua ini hanyalah langkah pertama pengepungan yang lebih
besar lagi.
Pemandangan ini benar-benar seperti daerah
perang layaknya. Tank-tank Israel memasuki kota-kota dalam pemerintahan
Palestina seperti Gaza, Ramallah, Nablus, dan Tulkarem, menghancurkan
segalanya di sepanjang jalannya; Pesawat-pesawat F-16 menghujankan bom
di atas orang-orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsian. Pemimpin PLO
Yasser Arafat tidak dapat meninggalkan tempat kediaman resminya, dengan
kata lain, ia telah dipaksa menjalani tahanan rumah. Hanya dalam satu
hari serangan itu, 40 orang terbunuh. Tentara Israel menembaki
rumah-rumah sakit, ambulan, dan sekolah-sekolah, termasuk sekolah untuk
tuna netra yang didirikan oleh PBB. Para wartawan asing di tempat
kejadian melaporkan bahwa orang-orang yang terluka selama serangan ini
tidak dapat dibawa ke rumah sakit karena tank-tank Israel mengepung
rumah sakit dan mencegah setiap ambulan untuk keluar masuk. Di samping
itu, ribuan orang diperiksa tanpa alasan yang jelas, dan lusinan mereka
dikirim ke penjara. Di beberapa kamp pengungsian, seluruh lelaki berusia
antara 14 dan 60 dibawa pergi untuk disidik. Beberapa di ntara mereka,
setelah ditahan selama 2 hari dengan tangan terikat dan mata ditutup,
kemudian ditahan dalam penjara. Di kamp Dheisheh, misalnya, 600
laki-laki dipaksa untuk disidik; 70 dari mereka ditahan tanpa tuduhan
resmi. Gambar-gambar orang-orang sipil dengan mata tertutup yang
menunggu penyidikan yang diperlihatkan pada pers hanya memperlihatkan
salah satu perbuatan tak masuk akal yang dilakukan oleh tentara Israel.
Pers melaporkan beberapa perbuatan kejam lain
selama pendudukan Israel: Gambar tentara Israel ketika melangkah di
atas mayat seorang Palestina yang baru dibunuh, memukul dan membunuh
seorang lelaki Palestina di tengah jalan meskipun ia telah menyerah,
tank-tank Israel yang memukul dan menghancurkan ambulan yang diparkir di
sisi jalan tersebut, dan orang Palestina yang dihujani dengan roket.
Bahkan, teror yang bersamaan diarahkan pada anak-anak, sebuah target
yang sudah lumrah bagi mereka. Kebijakan Israel terhadap anak-anak tidak
hanya ditentang oleh orang-orang Palestina saja, tapi juga oleh seluruh
dunia, termasuk warga Israel. Penulis Israel terkenal Gideon Levy,
musuh abadi kebijakan Israel di Daerah Pendudukan, mengkritik tajam hal
itu dan bertanya pada masyarakat Israel:
Adakah yang
memerintahkan para tentara menembaki kepala anak-anak, ataukah mereka
melakukannya atas kemauan sendiri? Apa bedanya? Masih bisakah kejadian
seperti itu disebut ketidaksengajaan? Ataukah ini sudah menjadi norma,
menembak untuk membunuh pelempar batu, anak-anak maupun dewasa? Dan ini
masih kita sebut bukan kejahatan perang? Coba, adakah orang-orang IDF
yang peduli dengan perilaku tentara seperti ini?122
Adam Shapiro, seorang pendudukung hak asasi
manusia Amerika yang tinggal di Ramallah, menggambarkan pemikirannya
tentang tentara Israel dalam memperlakukan Daerah Pendudukan:
Pendudukan ini
bersandar pada pemusnahan manusia. Inilah sebabnya para tentara tega
melakukan apa yang mereka mau, mereka diharapkan dan didorong untuk
tidak melihat orang-orang Palestina sebagai manusia. Saya tidak yakin
bahwa tentara Israel sudah kejam dari sananya, tapi saya percaya bahwa
ketika mereka bertugas… mereka meninggalkan rasa kemanusiaannya di
belakang… Ketika Israel akhirnya memahami bahwa pendudukan ini adalah
akar dari pertikaian di sini, dan dengan begitu meninggalkannya dan
membiarkan orang-orang Palestina untuk hidup dalam kemerdekaan,
kata-kata yang perlu digunakan untuk menerangkan dan memahami dunia kita
sekali lagi akan bermakna. Kalau belum sampai di sana, “kemanusiaan”
akan tetap menjadi kata dengan makna tapi tanpa pengamalan…123
Kebijakan kekerasan Israel meningkat lebih
jauh dari sekedar kekerasan. Beberapa kelompok radikal Palestina
meningkatkan bom bunuh diri mereka yang ditujukan pada warga sipil
Israel. Ketika berhadapan dengan perkembangan ini, Ariel Sharon dan
pemerintah Israel memutuskan untuk tidak melanjutkan kebijakan yang
terukur dan berkepala dingin, tapi menganggap perlu meningkatkan lagi
tingkat penindasan dan kekerasan. Dalam sebuah pernyataan persnya,
Sharon berkata:
"Kita
harus menyebabkan mereka mengalami kerugian, luka-luka, sehingga mereka
tahu mereka tidak akan dapat apa-apa… Kita harus memukul mereka, pukul,
pukul lagi, sampai mereka mengerti.” Bagaimana dengan menawarkan sebuah
pemecahan politik, sang perdana menteri ditanya. Sekarang, jawabnya,
bukanlah waktu untuk prospek politik, ini cuma untuk prospek militer.124
Anggota Partai Likud Meir Sheetrit, dalam pernyataannya
kepada parlemen, mengatakan bahwa ia mendukung kekerasan yang dilakukan
oleh tentara Israel di Daerah Pendudukan, dengan menekankan bahwa ia
akan mendukung setiap tindakan militer "yang dirancang agar orang-orang
Palestina berteriak meminta gencatan senjata."125
Teknik ini tidak menyelesaikan apa-apa, selain mendorong ke
dalam lingkaran setan kekerasan. Seperti telah kita bahas di atas,
peristiwa di Palestina sekali lagi membuktikan bahwa masalah ini tidak
pernah dapat dipecahkan dengan kekerasan.
Menurut
angka-angka yang diterbitkan PBB, selama operasi Israel dijalankan, 1620
rumah terus mengalami kerusakan berat, beserta 14 bangunan umum,
termasuk beberapa sekolah. Di Jenin, dari 2500 bangunan yang ditempati
14.000 orang Palestina di sana, 550 rusak. Enam rusak ringan, 541 dengan
aneka kerusakan, dan tiga rusak total. Di Balata, dari 3700 bangunan
yang ditempati 20.000 orang, 670 mengalami kerusakan. Dari jumlah ini,
10 rusak total dan 14 rusak parah. Di Nur Al-Shams, 100 dari 1500 rumah
tempat 8000 orang tinggal, rusak, tiga di antaranya tengah dihancurkan.
Di Tulkarem, 300 dari 2900 bangunan yang didiami 16.000 orang rusak;
enam di antaranya rusak total dan 30 rusak parah. Kerugian ekonomi
keseluruhan ditaksir sekitar 3,5 juta dolar.126
Masa ini, yang menyebabkan Israel dikritik
tajam oleh PBB dan Uni Eropa, berakhir dengan langkah penting pertama
Amerika Serikat mengirimkan juru runding untuk menangani krisis ini.
Tank-tank Israel mulai menarik diri dari wilayah Palestina, meninggalkan
daerah yang hancur berat, dan kedua pihak memasuki perundingan
keamanan.
Selama penarikan singkat ini, salah satu
upaya penting dilakukan untuk memastikan datangnya perdamaian adalah
dalam bentuk sebuah rencana damai yang disampaikan oleh Pangeran Saudi
Arabia, Abdullah di The New York Times. Menurut rencana ini,
sebagai ganti mundurnya Israel dari batas pra-1967nya (menurut resolusi
PBB), negara-negara Arab akan mendinginkan kembali hubungannya dengan
Israel. Usulan ini diterima positif oleh sebagian besar orang Palestina.
Akan tetapi, radikalisme di kedua belah pihak menghambat pelaksanannya.
Akibatnya, penarikan tank-tank hanya memberi
waktu senggang untuk tentara Israel. Dalam beberapa hari, pendudukan
baru dan lebih menyeluruh dimulai. Kali ini, sasarannya adalah Tepi
Barat, dan khususnya Ramallah, tempat markas besar Arafat. Hasil operasi
ini menempatkan markas Arafat dalam kepungan, hampir memaksanya tinggal
di satu ruangan saja, sementara bahaya besar dihadapi oleh penduduk
sipil Palestina. Militer Israel tidak menghentikan langkahnya menduduki
Ramallah saja, melainkan merampas seluruh kota-kota Tepi Barat satu demi
satu. Arus listrik diputuskan, dan pemadaman itu menyebabkan tak
teraturnya aliran air. Tempat ini dikenakan jam malam ketat, dan
penduduk mulai mengalami kelaparan karena aliran makanan anjlok. Ketika
orang-orang yang sakit dan orang lanjut usia serta anak-anak berusaha
mempertahankan hidupnya dalam keadaan brutal ini, hampir seluruh lelaki
berusia antara 14 dan 50 tahun ditangkap oleh tentara Israel. Ketika
tentara Israel mengambil alih bangunan yang dimiliki oleh dinas keamanan
Palestina, meskipun para petugasnya telah menyerahkan diri, mereka
ditembak di kepala dan dibunuh. Untuk mengasingkan orang-orang Palestina
dari dunia internasional, Israel segera mengumumkan daerah pendudukan
sebagai “daerah tertutup” sehingga dunia tidak akan mendengar kekejaman
yang dilakukan atas orang-orang Palestina.
Meskipun telah mengupayakan hal seperti itu,
stasiun-stasiun televisi dunia tetap menampilkan gambar-gambar kekejian
di Palestina. Di antara gambar bersejarah adalah gambar orang-orang
Palestina yang ditembak dari dekat di kepala, tahanan yang diikat dan
ditutup matanya diseret ke daerah yang belum diketahui, seorang pemimpin
dunia yang berpidato ke seluruh dunia dengan nyala lilin, jalanan
Palestina yang gelap dan kosong, rumah sakit yang mengundang kemarahan
tentara Israel, biarawati dan biarawan yang ditembak tank-tank Israel,
dan anggota LSM yang mencoba untuk membentuk “pagar betis” bagi
orang-orang Palestina tak bersalah. Ketika kamar mayat di rumah sakit
Ramallah penuh, mereka mulai menaruh dua mayat dalam ruang yang muat
untuk satu orang. Lalu muncul berita tentang kuburan massal yang digali
untuk orang-orang yang dibunuh. Tempat-tempat seperti Tulkarem,
Bethlehem, dan Qalqilya telah menjadi tempat mandi darah di depan mata
dunia. Di Bethlehem, yang dipercaya sebagai kota tempat Yesus
dilahirkan, banyak orang-orang Palestina yang dengan putus asa mencari
tempat berteduh di gereja-gereja, tapi tak ada hasilnya. Bukan halangan
bagi tentara Israel, seperti yang segera dilaporkan berita mengenai
meletusnya tembakan di gereja-gereja dan bahkan anggota pendeta Kristen
terbunuh.
Petunjuk lain tentang kekejaman pendudukan
tak berperikemanusiaan ini adalah bagaimana wartawan dan anggota aktivis
LSM di daerah ini diperlakukan. Sewaktu pemerintah Israel dengan paksa
memindahkan beberapa wartawan yang mencoba melaporkan kejadian ini, yang
lain seolah tetap menjadi sandera di dalam, dan beberapa orang yang
tetap berada di sana bahkan kehilangan nyawanya. Kebijakan yang bahkan
lebih keras lagi diterapkan pada pekerja LSM: Beberapa dari mereka
ditahan karena “melanggar” hukum Israel, sedangkan lainnya diserang
dengan gas air mata. Organisasi bantuan kemanusiaan tidak diizinkan
melakukan apa pun. Satu contoh saja, pejabat PBB yang mencoba membawa
makanan dan obat-obatan ke dalam tempat ini tidak hanya tak diberi
jalan, bahkan diserang dengan gas air mata.
Pada saat ini, pembantaian dan kekerasan
terus tak terpadamkan. Untuk menghentikan pertumpahan darah, untuk
memastikan tak ada lagi nyawa melayang, dan agar kedua belah pihak
mempunyai masa depan yang cerah dan damai, Israel harus menghentikan
pendudukan ini sekaligus dan mengadakan perundingan antar kedua negara.
Tapi, seperti dikatakan sebelumnya, satu-satu cara agar perdamaian
tercapai, agar keamanan tercipta, dan permusuhan dihentikan adalah
dengan perubahan mendasar dalam cara berpikir seluruh pihak. Perubahan
ini dapat terjadi jika semua pihak yang terlibat menjalankan sikap tak
berlebihan, tenggang rasa, dan kompromi, yakni jika mereka mengikuti
nilai-nilai akhlak yang Tuhan putuskan dalam Al-Qur'an.
Pembantaian yang Terjadi di Jenin
Seperti ditegaskan berita yang dilaporkan dari wilayah ini, Operasi Perisai Pertahanan (Defensive Shield),
yang dilakukan atas nama pembasmian teror, mengakibatkan pembantaian
lainnya atas warga sipil Palestina. Operasi ini dilakukan tidak hanya
untuk tujuan mempertahankan diri, seperti disebutkan oleh namanya,
melainkan untuk tujuan merusak. Operasi keseluruhan dicirikan oleh
kebrutalan di seluruh Ramallah, Nablus, dan Bethlehem, karena tentara
Israel menjadikan warga sipil sebagai sasaran, bukan kelompok
bersenjata, dan membunuh wanita dan anak-anak yang bukan penyerang.
Seorang tentara Israel yang terlibat dalam operasi ini mengatakan pada
BBC:
Sebagai contoh
ini saja. Ada satu desa tempat kami memata-matai seseorang yang
berencana melakukan serangan teroris. Kami mengepung desa itu dan
bergerak ke dalam, tapi ada seorang gembala berumur 17 tahun di ladang
di pinggir desa… Apakah saya harus menahan, menutup matanya, mengikat
tangannya? Atau saya harus berkata padanya agar segera masuk ke dalam?…
Kami dilatih untuk melawan musuh dan tentara, tapi kami harus menghadapi
masyarakat dalam keadaan ini… Hal yang paling mengerikan adalah masuk
ke rumah-rumah dan melihat mereka hanyalah keluarga biasa. Anak-anak
dengan mata ketakutan, saya merasa sangat sulit. Kami semua punya
anak-anak di rumah.127
Kejadian kasar yang terjadi selama hari
terakhir Maret 2002 tercatat dalam sejarah sebagai puncak pengepungan
dan pembantaian brutal. Apa yang disebut media Barat sebagai
“Pembantaian Sabra dan Shatilla jilid dua” merupakan serbuan yang
diorganisir melawan kamp pengungsi Jenin. Kamp pengungsi ini telah
didirikan untuk orang-orang Palestina yang terusir dari tanahnya di
tahun 1948. Selama operasi terakhir ini, tentara Israel mengepung kamp
ini, yang menjadi rumah bagi 15.000 orang, seperti yang telah
dilakukannya pada kota-kota dan kamp-kamp Palestina lainnya. Namun apa
yang terjadi selanjutnya berbeda dalam satu hal penting: Jenin tidak
sekedar dikepung, tapi malah mengalami salah satu pembantaian paling
menyeluruh di tahun-tahun terakhir.
Begitu kamp tersebut dikepung oleh tank-tank
Israel, kamp dibombardir terus-menerus oleh roket-roket yang diluncurkan
dari helikopter tempur. Bulldozer membongkar rumah-rumah dan tank-tank
menembaki segalanya yang bergerak, sementara hampir semua lelaki
dikumpulkan dan dibawa pergi. Orang-orang yang tidak terkena roket
terjebak di bawah reruntuhan rumah mereka, dan orang-orang yang masih
hidup di bawah puing-puing dibunuh oleh tentara Israel. Penolakan Israel
untuk mengizinkan ambulan memasuki kamp, yang langsung melanggar
keputusan PBB, menyebabkan angka kematian lebih tinggi lagi. Berita
berikutnya dari daerah itu menunjukkan bahwa banyak wanita dan anak-anak
tumpah darah hingga tewas, banyak jeritan kesakitan, karena ambulan dan
dokter tidak diizinkan masuk.
Bahkan setelah Israel mengumumkan bahwa
pengepungan berakhir, mereka masih menolak mengizinkan para wartawan,
dokter, dan petugas organisasi hak asasi manusia memasuki kamp itu.
Israel mengumumkan bahwa orang-orang yang terluka akan diangkut oleh
tentara Israel dan mayat-mayat akan dikubur di pemakaman massal di
perbatasan Yordania. Ini adalah bukti yang jelas bahwa Israel ingin
menutupi pembantaian terakhir dari dunia internasional. Kenyataannya
Menteri Luar Negeri Shimon Peres mengakui bahwa tentara Israel telah
melakukan pembantaian ketika berbicara pada Knesset Israel:
Ketika dunia
melihat gambar-gambar apa yang telah kita lakukan di sana, terlihatlah
kerusakan yang parah. Meskipun banyak orang yang kita cari dibunuh di
kamp pengungsian, dan meski banyak prasarana teror telah kita ungkap dan
hancurkan di sana, tetap tidak ada pembenaran melakukan penghancuran
besar seperti ini.128
Setelah itu, dunia mulai mendengar tentang
besarnya pembantaian dari orang Palestina yang berhasil memberitakan
kabar dari dalam kamp dan dari beberapa wartawan yang berhasil memasuki
kamp dan berhasil melarikan gambar-gambar itu. Meskipun Israel mencoba
menghancurkan seluruh bukti, orang-orang Palestina berhasil melaporkan
apa yang terjadi dengan menyalin catatan tertulis tentang pengalaman
mereka. Dalam hari-hari pertama pengepungan, surat kabar The Times
melaporkan kejadian di Jenin dalam artikel bertanggal 9 April 2002,
berjudul “Children Scream for Water (Anak-anak Menjerit Minta Air)":
Pemandangan terakhir Hamid tentang Kamp
Pengungsi Jenin adalah sebuah kota kematian. Siswa sekolah berusia 14
tahun, yang menyerah pada tentara Israel Sabtu malam setelah menyaksikan
30 jam pengeboman, sedikit bergetar ketika melukiskan malapetaka ini.
Tumpukan mayat dipinggirkan oleh bulldozer. Rumah-rumah dalam
puing-puing terbakar. Anak-anak menjerit minta air; beberapa dipaksa
meminum air limbah.
Hamid mengenakan celana baru, yang dibelikan
oleh orang Palestina yang kasihan, karena ia ditelanjangi hingga pakaian
dalamnya oleh tentara Israel setelah ia menyerah pada mereka… Tiga
orang terbunuh oleh roket di dalam rumah tempat ia mengungsi.
"Tapi hal paling mengerikan adalah melihat
tentara Israel membawa delapan orang dan membariskan mereka dan membunuh
mereka,” katanya, menggambarkan secara rinci perlakuan terhadap mereka
dan luka-luka yang dialaminya. Setelah itu, Hamid, saudara kembarnya
Ahmed dan kakaknya Khadir membuat bendera putih dan mengibarkannya dari
jendela. Mereka tak punya jalan lain.
Kakaknya ditelanjangi, dibelenggu kuat di
belakang punggungnya dan matanya ditutup. Mereka dibawa ke suatu
kelompok sekitar 100 lelaki Palestina ke Barak Militer Salem di Israel,
tempat mereka mengatakan mereka dipukul dan ditawari uang untuk menjadi
mata-mata Israel. Setelah 48 jam penyidikan, para lelaki dibawa ke suatu
desa terdekat tanpa alas kaki dan disuruh pulang ke Tepi Barat. Ahmed
ditendang dengan kasar di punggungnya dan ginjalnya dan terbaring di
kasur menggeliat kesakitan. Khadir dengan mata lebam dan memar, tapi
mereka bersaudara tetap hidup.
Tapi yang lain, tidak begitu beruntung. Di
dalam mesjid beberapa dari lelaki yang menyerah hari Sabtu mengatakan
dijadikan perisai hidup oleh para tentara… Khalid Mustafa Mohammed
terbaring tengkurap berdarah-darah di atas kasur, dan punggungnya
dibalut perban….
Khalid dengan dua rusuk patah dan pendarahan
dalam dan terbaring setengah koma, mengigau kesakitan. Satu-satunya
petugas kesehatan di kota, seorang dokter gigi yang sudah kelelahan, Dr.
Farouk al Ahmed… “Kami takut akan ada pembantaian,” kata Dr. Farouk.
Seorang saksi mata mengatakan bahwa “wanita dan anak-anak dipisahkan
dari lelaki itu, dan dibawa ke hutan terdekat."
Rasa takut
sesungguhnya bukanlah karena para pengungsi yang berhasil lari,
melainkan yang masih tertinggal. Kenangan kamp pengungsian Sabra dan
Shatilla muncul seolah belum lama terjadi.129
Walikota Jenin Walid Abu Muweis, tentang hal
ini mengatakan bahwa kalimat yang dapat melukiskan apa yang ia lihat dan
alami adalah: “Hal yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri tidak
akan bisa diungkap kata-kata. Bagaimana seorang manusia bisa melakukan
kebrutalan seperti itu? Saya tidak mengerti.” Muweis yang mengatakan
bahwa apa yang terjadi di Jenin jauh lebih mengerikan dibanding yang
terjadi 54 tahun lalu di Deir Yassin, ketika menerangkan apa yang ia
lihat dalam satu pernyataannya yang muncul di majalah Palestine Monitor:
Saya melihat
mayat anak-anak menyembul dari reruntuhan. Saya melihat tubuh
orang-orang berusia 60an dan 70an membusuk di jalanan. Ini baru satu
kamp, tempat kecil yang diizinkan untuk dimasuki. Kejahatan bersejarah
ini akan tetap menjadi kekejian memalukan terhadap dunia beradab yang
tetap diam membisu sewaktu ratusan lelaki, wanita, dan anak-anak tak
berdaya dijagal tanpa rasa kasihan oleh tentara terbiadab di dunia.130
Seperti dicatat oleh Abu Muweis, kejadian di
Jenin akan menulis lembar memalukan dalam sejarah kemanusiaan.
Pemandangan mengerikan yang muncul berikutnya di pers membenarkan hal
ini. Misalnya, pemandangan pembantaian pertama dari Jenin digambarkan
berikut ini dalam The New York Times:
Pengungsi di
kamp mengatakan bahwa banyak warga sipil terbunuh. Dua mayat bisa
dilihat di sini sekarang… keduanya terbakar tak dikenali lagi. Salah
satunya pria… Sebagian sepatu karet masih ada di kaki kanan. Kaki kiri
dan tangannya sudah hangus. Seorang wanita berpakaian hitam meratap di
dekat mayat itu, lalat-lalat mengerubungi udara busuk karena aroma
kematian yang tak perlu… Mayat lainnya, beberapa pintu jauhnya, terkubur
di bawah dinding runtuh. Hanya muka hitam dan tak berwajah yang
terlihat. Sepatu karet anak-anak… tergeletak di dekatnya. Di kedua
peristiwa ini, tak ada senjata terlihat…131
Justin Higgler dari surat kabar The Independent
mempertanyakan pengabaian dunia atas pembantaian terang-terangan ini
dalam artikelnya “The Camp That Became a Slaughterhouse” (Kamp yang
Menjadi Rumah Jagal):
Selama sembilan hari, kamp Jenin menjadi
rumah jagal. Lima belas ribu orang Palestina tinggal dalam tempat satu
kilometer persegi di kamp ini, jalur-jalur dengan ruangan sempit. Ribuan
orang sipil yang menderita, wanita dan anak-anak, menggigil ketakutan
dalam rumah mereka ketika helikopter Israel menghujankan roket pada
mereka dan tank-tank menembakkan rudal ke dalam kamp.
Yang terluka
ditinggal mati. Tentara Israel menolak mengizinkan ambulan merawat
mereka, yang merupakan kejahatan perang menurut Konvensi Jenewa. Palang
Merah mengumumkan bahwa orang-orang mati karena Israel menghambat
ambulan… Pihak berwenang Israel mungkin dapat menyembunyikan bukti,
namun mereka tak bisa membungkam cerita yang telah dilontarkan oleh
orang yang berhasil melarikan diri dari pembunuhan di kamp ini… Munir
Washashi kehilangan darah dan meninggal beberapa jam setelah sebuah
helikopter berputar di sepanjang dinding rumahnya. Ketika sebuah ambulan
mendekatinya, tentara Israel menembakinya. Ibu Munir, Maryam, berlari
ke jalan berteriak minta tolong pada puteranya dan ditembak di kepalanya
oleh tentara Israel.132
Laporan ini diperoleh sekalipun Israel
berupaya menghindari segala komunikasi dengan Jenin. Setelah pengepungan
ini terungkap, dunia mendapatkan bukti lebih banyak tentang penjagalan
ini. Satu-satunya cara untuk memastikan tidak ada lagi tragedi seperti
Jenin di masa mendatang, dan menghentikan air mata dan rasa sakit di
kedua belah pihak, adalah menghentikan kekerasan sepenuhnya. Memang,
agar ini dimungkinkan, kelompok-kelompok tertentu di Palestina harus
menghentikan kegiatan mereka menyerang warga sipil Israel yang tak
bersalah. Ini, pada akhirnya, adalah pelanggaran atas etika Islam. Tapi
Israel harus melupakan tujuannya menghancurkan orang-orang Palestina dan
memenuhi kewajibannya pada PBB.
122. Gideon Levi, "Sammi Kosba's 40 days," Haaretz,
Februari 8, 2002, tanda penegasan ditambahkan.
123. Adam Shapiro, "There Are No More Words," Socialist Viewpoint, April 2002, Vol. 2, No. 4, tanda penegasan ditambahkan. 124. "From intifada to war," The Economist, Maret 7, 2002, tanda penegasan ditambahkan. 125. "An ever more vicious cycle," The Economist, Maret 5, 2002, tanda penegasan ditambahkan. 126. Haaretz, Maret 11, 2002. 127. Tarik Kafala, "Confessions of an Israeli Reservist," BBC News, April 13, 2002, tanda penegasan ditambahkan. 128. Aluf Benn and Amos Harel, "Peres calls IDF operation in Jenin a 'massacre'," Ha'aretz, April 9, 2002, tanda penegasan ditambahkan. 129. Janine di Giovanni, "Children scream for water in the 'City of Bombers'," The Times, April 9, 2002, tanda penegasan ditambahkan. 130. "Jenin mayor says Israeli massacres at camp defies linguistic description," IAP News, April 15, 2002. 131. James Bennet, "Refugee Camp Is a Scene of Vast Devastation," The New York Times, April 14, 2002. 132. Justin Huggler, "The camp that became a slaughterhouse," The Independent, April 14, 2002 |
Langganan:
Postingan (Atom)